Siang itu, seorang pemuda tampan dan wanita cantik berjalan di pasar yang ramai sambil membawa sekeranjang tanaman herbal. Wajah mereka tampak akrab bagi penduduk setempat. Bagi para pedagang, mereka dikenal sebagai pasangan suami istri, Xiao Lin dan Yun Qing.

"Apa kau mengenal mereka?" tanya seorang pembeli penasaran kepada pedagang daging di lapak sederhana.

Pedagang itu menyeringai kecil sebelum menjawab, "Kenapa kau menanyakan mereka? Itu Xiao Lin dan istrinya, Yun Qing. Semua penjual di pasar ini pasti tahu siapa mereka. Mereka setiap hari ke sini untuk menjual tanaman herbal."

"Apa kalian tidak merasa aneh? Wajah pemuda itu terlihat berbeda dibandingkan kita," pembeli itu melanjutkan dengan nada penuh keingintahuan.

Pedagang itu terkekeh, "Dia berasal dari desa yang sangat jauh di utara. Mereka pindah ke sini untuk menemui keluarga mereka, satu-satunya yang tersisa. Tapi ya, ada satu hal yang membuatku merasa kasihan..."

"Kasihan? Kenapa?" tanya si pembeli semakin tertarik.

"Saat perjalanan mereka ke sini, mereka diserang penjahat dan terkena racun yang aneh. Racun itu membuat ingatan Xiao Lin hilang setiap harinya. Bayangkan saja hidup seperti itu," jelas pedagang sambil menimbang daging yang dipesan.

"Ingatan hilang? Racun macam apa itu? Aku belum pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya," ujar pembeli dengan nada tidak percaya.

Pedagang itu mendengus kecil. "Di dunia ini, racun itu jumlahnya tak terhitung. Apa kau pikir semudah itu mengetahui racun mana yang mengenainya? Kalau kau tahu banyak tentang racun, seharusnya kau bekerja sebagai tabib, bukan malah tanya-tanya di sini," jawabnya mulai kesal.

Pembeli tertawa kecil, merasa kena tegur. "Baiklah, berikan aku daging sapi itu," katanya sambil menyerahkan beberapa koin perak.

Di dunia itu, mata uang yang digunakan berupa koin perunggu, perak, dan emas. Seratus koin perunggu setara dengan satu koin perak, dan seratus koin perak setara dengan satu koin emas.

Setelah memberikan koin, pembeli itu melanjutkan pertanyaannya, "Tapi wanita itu... dia terlihat seperti wanita kaya. Kenapa pakaiannya begitu sederhana?"

Pedagang itu tersenyum lebar, senang dagangannya laku. "Dia bukan orang kaya. Dia hanya beruntung memiliki kulit yang halus dan bersih, seperti wanita bangsawan. Tapi sebenarnya dia tidak bisa membaca atau menulis. Bahkan, ibu angkatnya yang harus mengajari dia cara menggunakan koin saat mereka tiba di sini," jelas pedagang itu panjang lebar, dia teringat nyonya Yun beberapa tahun lalu mengajari Yun Qing tentang fungsi koin, meski mereka merasa aneh karena dia tidak mengenal cara menggunakan koin diusianya. Mereka bahkan menertawakan Yun Qing dianggap bercanda saat dia bercerita mengenai tempat tinggal sebelumnya, mereka melakukan pertukaran barang yang setara.

"Orang pasti sulit percaya kalau dia orang miskin, apalagi melihat penampilannya yang mengalahkan banyak wanita lain," kata si pembeli sambil menghela napas kagum.

Pedagang itu tertawa kecil. "Kau benar. Banyak pria di desa ini mengatakan hal yang sama. Kalau dia belum menikah, aku yakin para pria akan antre untuk mencoba meminangnya."

Setelah menyerahkan daging pesanan, pedagang itu mengakhiri percakapan dengan senyum penuh arti, sementara si pembeli membawa dagingnya sambil terus memikirkan pasangan aneh yang tampak mencolok di pasar itu.

Setiap hari setelah mencuci pakaian, jelita mengajak Lynx untuk menjual tanaman herbal yang dia petik di pagi hari dihutan, dengan ilmu yang dipelajarinya dari nenek Drona, dia melihat ada beberapa tanaman yang memiliki kesamaan sehingga dia memetik dan menjualnya.

"Kali ini kamu datang lebih lambat, Yun Qing. Apakah suamimu kambuh lagi pagi ini?" tanya seorang pedagang wanita yang berjualan di lapak sebelah. Wajahnya terlihat sedikit prihatin.

"Tidak, Bu. Pagi tadi tumpukan cucian yang harus kukerjakan terlalu banyak, jadi kami berangkat lebih siang," jawab Jelita sambil tersenyum kecil, tangannya sibuk menyiapkan tanaman-tanaman herbalnya di lapak sederhana mereka. Lynx, yang selalu setia membantunya, menyusun tanaman-tanaman itu dengan telaten.

Pada awalnya, penduduk desa bingung melihat tanaman-tanaman yang dijual oleh Jelita. Mereka tidak mengenali daun, akar, dan bunga-bunga itu, apalagi memahami khasiatnya. Namun, Jelita dengan sabar menjelaskan manfaat setiap tanaman kepada mereka.

"Coba gunakan ini untuk sakit kepala, Bu. Caranya cukup direbus, lalu diminum airnya," kata Jelita sambil menyerahkan seikat daun kecil kepada seorang pembeli yang penasaran.

Setelah mencobanya, beberapa penduduk mulai mengakui khasiat tanaman-tanaman itu. Meski khasiatnya masih kalah dibandingkan ramuan herbal yang dijual di toko obat besar, harganya yang murah membuat tanaman-tanaman Jelita menjadi pilihan bagi mereka yang hanya membutuhkan obat untuk penyakit ringan.

"Yun Qing, tanamanmu benar-benar membantu anakku kemarin. Dia bisa tidur nyenyak setelah meminum rebusan ini," kata seorang ibu muda yang membeli tanaman lagi hari itu.

"Terima kasih, Bu. Kalau ada keluhan lain, beri tahu aku, ya," jawab Jelita dengan sopan.

Namun, banyak juga penduduk yang membeli bukan hanya karena manfaat tanaman itu, tetapi karena rasa iba. Mereka tahu bahwa hasil penjualan itu digunakan untuk membeli obat untuk Lynx, yang mereka pikir menderita penyakit karena racun misterius. Jelita tidak pernah mengeluh atau meminta belas kasihan, sehingga banyak penduduk yang membantunya.

Namun, ada juga penduduk yang ingin memanfaatkan kelemahan mereka dengan mengiming-imingi kekayaan selama dia mau meninggalkan suaminya.

Siang itu, pasar desa yang biasanya ramai dengan aktivitas mendadak sunyi ketika Huo Jun muncul bersama beberapa temannya. Senyumnya yang sinis langsung tertuju pada lapak tempat Yun Qing berjualan bersama suaminya, Xiao Lin. Para pedagang yang melihatnya hanya menunduk atau pura-pura sibuk. Mereka tahu, keluarga Huo adalah pemilik lahan pasar ini, dan tak ada yang berani menentang mereka.

"Yun Qing, kita bertemu lagi. Rupanya pakaian yang kamu cuci cepat juga selesainya," kata Huo Jun dengan nada sok akrab, mencoba memulai percakapan.

Jelita, yang ingin mereka cepat pergi, menjawab singkat dengan nada ketus, "Aku tinggal menunggunya kering dan melipatnya sepulang dari pasar." Dia berusaha tetap tenang, meski hatinya kesal melihat tingkah mereka.

"Pasti kamu sangat lelah harus mencuci pakaian sebanyak itu setiap hari," kata Huo Jun, suaranya terdengar seolah penuh perhatian, meski jelas itu hanya dibuat-buat.

"Betul, Yun Qing, tidak seharusnya kamu menderita seperti ini. Kamu bisa menikmati hidup yang lebih baik," timpal salah satu teman Huo Jun dengan nada sok peduli, tetapi matanya memandang sinis ke arah Lynx yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Kalau aku jadi kamu, pasti aku tidak akan mau bekerja sekeras ini," kata teman lainnya, nada congkaknya semakin membuat suasana terasa tak nyaman.

Huo Jun tersenyum lebar, langkahnya semakin mendekat. "Tapi, kulihat dirimu semakin cantik hari ini," ucapnya dengan nada genit. Tatapan matanya tak lepas dari wajah Jelita, mencoba mencari celah untuk membuatnya malu. Teman-temannya tertawa kecil, mendukung tingkahnya yang semakin kurang ajar.

Jelita hanya mengabaikannya, tetap sibuk menata tanaman herbal di lapaknya. Namun, Huo Jun tidak menyerah. Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menatap wajah Jelita dengan tatapan tidak sopan.

"Apa suamimu itu tidak cukup memberimu kebahagiaan? Kalau kau mau, aku bisa membawamu ke rumah keluargaku. Aku pastikan kau akan hidup seperti ratu, tidak perlu lagi mencuci atau berjualan seperti ini," katanya dengan suara yang dibuat-buat lembut, tetapi niatnya jelas-jelas tidak tulus.

Salah satu pedagang yang mendengar itu menggertakkan gigi, tetapi hanya bisa diam. Mereka tahu, keluarga Huo tidak akan segan menghancurkan siapa pun yang berani melawan.

Jelita akhirnya menatap Huo Jun dengan dingin. "Tuan muda Huo, tolong jaga sikapmu. Saya tidak ingin ada masalah," katanya tegas, meski tangannya sedikit gemetar karena rasa takut.

Namun, Huo Jun hanya tertawa. "Masalah? Ah, masalah hanya ada kalau kau tidak menuruti kata-kataku," ucapnya, lalu dia mencoba menyentuh tangan Jelita.

Saat itu, Lynx yang sedang membantu menyusun tanaman herbal langsung menangkap pergelangan tangan Huo Jun dengan gerakan cepat. Tatapannya berubah tajam, berbeda dari biasanya. "Jangan sentuh dia," katanya dengan suara rendah namun mengancam.

Huo Jun terkejut, tapi hanya sesaat. Dia langsung tertawa keras, merasa direndahkan. "Kau berani melawan aku, Xiao Lin? Lihat dirimu, hanya seorang pecundang yang bahkan tidak bisa mengingat siapa dirinya sendiri!" katanya sambil menarik tangannya yang ditahan Lynx.

Melihat Huo Jun ditegur, salah satu temannya maju, menunjuk Lynx dengan marah. "Berani kau mempermalukan Tuan Muda Huo? Kau cari mati!" katanya, lalu mencoba menyerang Lynx dengan tinjunya.

